Na Willa. Anak kecil yang cerdas, cantik dan kritis. Aku menyebutnya demikian.
Usai nonton di bioskop bareng Andra, pikiranku berkeliaran.
Eh, maksudnya isi pikiranku ya. Terdapat banyak hikmah bagiku sbagai orang tua, juga ada hal penting dan sangat related dengan kehidupanku. Simak review jujur dari bu Windi ya.
1. Pernikahan LDM
Bapak Na Willa seorang pelaut. Tiap pulang, Na Willa nyeletuk "ini siapa? ". Saking lamanya tidak bertemu Pak. Maklum, masih di bawah tujuh tahun ingatannya sosok bapak butuh terus di pupuk. Sebab iu, Pak Na Willa nggak mau kehilangan figur. Tiap pulang pasti bawa banyak buku. Untuk dibacakan emak sebelum tidur.
Emak Na Willa seorang ibu rumah tangga. Aktivitas homeschooling membuat Na Willa bisa baca cepat hanya dengan bimbingan dari emaknya. Bagian ini seru, emak Na Willa sangat sabar dan telaten membersamai sang buah hatinya. Komunikasi yang dia bangun dengan suaminya, Pak (sebutannya). Membuat haru sekaligus menginspirasi ku sebagai sesama pejuang long distance marriage.
2. Rutinitas Ajak Na Willa Ke pasar
Setiap pergi ke pasar, Na Willa pasti diajak Emak. Melihat kondisi pasar, bahkan sudah biasa dititipkan di warung makan cik teman dekat emak. Disuguhi minuman botol berwarna kuning nan segar. Diseruput Na Willa sampai habis.
"Na Willa habis minta minum mak cik ya? ". Enggak mak, tadi dikasih, Na Willa nggak minta.
3. Aktivitas hanya dirumah bikin Na Willa ingin sekolah
Mak, Na Willa mau dibeliin ayam kecil sangat (anak ayam). Buat teman dirumah. Keinginan Na Willa keika diajak emak ke pasar.
Awalnya, emak menunda membelikan. Ada teman Na Willa yang bisa diajak bermain. Bermain layang-layang bersama farida, dul dan kawan lainnya. Sehari-hari, merekalah teman bermain Na Willa.
Sebagai penonton, akupun akan merasakan apa yang dirasakan Na Willa. Menjalankan rutinitas yang itu-itu saja akan membuat cepat bosan. Terlebih, mengatahui teman Na Willa yang tiap pagi di antar ibu/bapaknya ke sekolah. Teman-teman nya pada say hello ke Na Willa.
Memang, belajar bersama emak dan membuat bisa membaca dan menulis bagi orang tua adalah kebangaan. Namun, sangat dibutuhkan kreativitas penyeimbang agar anak juga dapat berkomunikasi dengan teman lain, mengenal lingkungan lebih luas dan pastinya, setiap kondisi anak dengan homeschooling itu berbeda.
Kalau menurutku, komunitas pendukung itu penting dan harus ada.
Kalau sore, teman Na Willa pada mengaji. Na Willa bosan. Wajar kan, jika farida juga ingin mengajak Na Willa belajar bareng?. Pasalnya, Na Willa sering mengintip dan menangkap dengan mata telanjang, kalau teman-teman nya punya aktivitas beragam sebagai pendukung.
Bagian serunya disini.
Suatu sore, Na Willa diajak farida mengaji. Na Willa ijin emaknya, dibolehkan. Dengan pesan, diam saja dan jangan bikin ulah. Na Willa sepakat. Bahkan mengikuti dan menuruti pesan yang ditegaskan oleh emaknya.
Faktanya.....
Eh, malah di beri buku jilid (ngaji)sama anak laki-laki berpeci hitam. Na Willa cuma nunjuk-nunjuk buku jilidnya. Padahal, Na Willa kan non muslim. Hahhaha. Adegan bagian ini bikin bu windi ketawa lebar.
Saat temannya sholat berjamaah, Na Willa semakin penasaran. Ingin seperti mereka yang sedang sholat. Pada akhirnya, punya ide. Balik kerumah ambil sprey berwarna putih yang baru saja dijemur oleh si mbok.
Usai kejadian tersebut, emak Na Willa marah. Akhirnya, Na Willa dihukum untuk menyuci sprey yang dibuatnya kotor.
Tidak kehabisan akal. Karena Na Willa kena hukuman nggak boleh main, Na Willa iseng. Mungkin karena jenuh juga dirumah, nggak bisa keluar main bareng temannya.
Membuktikan pemikirannya yang kritis. "Apakah di dalam radio ini ada penyanyi eres?, suaranya bagus. Ah, aku mau buka isi radionya".
Ketika radio masih menyala, dan sisi kiri kanan radio berhasil dibuka. Waktu tangan Na Willa hendak dimasukkan terdengar teriakan emak. Na Willa, jangan!
"Na Willa mau lihat eres mak. Penyanyi yang suaranya bagus". Emaknya menangis.
Malam harinya, emak menulis surat untuk suaminya. Menceritakan Na Willa yang ingin sekolah.
Berat hati emak, melepaskan anaknya sekolah seperti temannya Na Willa. Hingga suatu ketika, ada tawaran emas untuk emak Na Willa
4. Katanya sih, Sekolah terbaik. Tapi.....
Sekolah umum yang berlatar seperti pendidikan jadul. Guru menjelaskan, murid harus nurut diam dan menyimak. Kalau ramai atau bikin ulah dibilang anak nakal.
Na Willa tidak diberi kesempatan bu Tini menulis di kelas . Saat bertanya, yang katanya murid baru akan diberi buku. Justru perdebatan muncul. "Kamu tidak pernah sekolah sebelumnya, kamu tidak bisa baca. Kembali duduk!, tegas bu Tini"
Na Willa terpantik. "Aku bisa baca bu. Aku bisa tulis. Emak yang mengajariku, sambil jalan menuju ke arah papan tulis dan menghilang kapur tulis".
Pada prosesnya, di cegah oleh Bu Tini. Kondisi semakin memanas.
Karena Na Willa ngeyel, bu Tini ikutan naik pitam. Teman sebangku Na Willa menambah ulah. Menarik rambut Na Willa. Karena tidak Terima, Na Willa membalas. Namun, bu Tini malah memarahi Na Willa. Tanpa pikir panjang, Na Willa menginjak salah satu kaki Bu Tini, kemudian lari ke luar kelas.
Sepanjang Na Willa berlari ke rumah, dia menangis.
Emaknya kaget. Na Willa menjelaskan.
Emak pun seketika itu juga pergi ke sekolahnya untuk klarifikasi sambil membawa bukti kalau Na Willa sudah bisa baca dan tulis.
Hukuman yang akan jadi solusi, jika Na Willa berbohong atas apa yang terjadi.
Pada akhirnya....
Emak justru tersenyum dan menawari Na Willa untuk besok mencari sekolah baru. Emak dan Na Willa saling memandang. Tatapan begitu hangat.
Esok harinya.....
Sepanjang perjalanan mengayuh sepeda, Na Willa dan Emak pergi menyusuri jalan untuk memilih sekolah baru. Satu pernah satu sekolah di survey.
Hingga akhirnya menemukan sekolah Djuwita dengan design kelas yang berwarna-warni dan ramah anak.
Bu Djuwita yang cantik, murah senyum dan sayang anak. Gambaran guru masa kini yang sangat diidolakan semua murid. Tatanan kelas sangat kreatif. Dilengkapi aneka media belajar yang menarik dan nampak seru.
Na Willa dan emak sumringah. Saat memasuki ruangan dan survey langsung. Fix, "Na Willa akan sekolah di TK Djuwita, turu emak dengan senyum sumringah".
Hikmah yang bisa dipetik dari Film Na Willa
Menyaksikan langsung bagaimana emak merawat dan mendidik Na Willa dengan penuh cinta. Dari seorang ibu yang membangun rumah tangganya dengan status LDM. Bukan hal yang mudah. Bahkan, kalau bisa jangan LDM. Rasulullah SAW tidak memberikan contoh demikian. Banyak huru haranya. Namun berkat kekuatan cinta, komunikasi dan saling percaya, emak dan pak mampu menunjukkan bahwa LDM bukan suatu halangan untuk mendidik anak dengan sungguh-sungguh. Kebiasaan membawakan buku dari seorang ayah ke anak, pasti jadi momen membanggakan dan diingat seumur hidup anak.
Memilih sekolah yang ramah untuk anak, memang bukan hal mudah. Bukan karena kemauan ibunya saja. Anak perlu dilibatkan. Minimal untuk tahu sekolahnya, gurunya, sistem pendidikan yang disampaikan. Jadi, bukan karena review atau rekomendasi orang lain yang tanpa di survey dulu. Komunikasikan ke anak. Seperti kasus Na Willa, di sekolahan pertama dia bermasalah. Gurunya yang judes, sistem pendidikan lebih otoriter dan tidak memerdekakan anak. Tidak cocok untuk Na Willa, si anak cerdas dan pintar.
Pada film ini, juga mengajarkan toleransi. Apapun agamanya, bersikap baik, saling menghargai dan tidak membully adalah kunci membangun kemerdekaan. Paling suka, ketika emak membolehkan Na Willa ikut ngaji saat diajak farida. Meski Na Wila hanya menyimak dari tempat duduknya, membuat Na Willa ingin mengikuti gerakan sholat yang dilakukan oleh teman muslimnya. Ketika hal tersebut diketahui emak, beliau tidak mencemooh "tidak boleh mengikuti ajaran mereka, Na Willa! ".tidak ada kalimat demikian yang muncul.
Justru emak fokus memarahi Na Willa yang secara diam-diam mengambil sprei yang baru saja di jemur.
Secara garis besar, film ini memberikan hikmah penting, yang secara data kasus fatherless di Indonesia masih tergolong tinggi. Film ini memberikan inspirasi untuk para ayah. Terus mencintai keluarganya walau harus terpisahkan oleh jarak dan waktu namun tetap harus memberikan tangki cinta yang penuh bagi istri dan anaknya.
Sebagai istri, pendidikan dari rumah adalah fondasi penting. Ibu kuat melahirkan anak yang hebat. Mungkin berat ya, mengasuh anak sendirian. Tidak ada yang tidak mungkin
Dengan ilmu, semua akan jadi mudah. Ikhlas dan terus mengkomunikasikan dengan partner hidup (pasangan), cara terbaik membangun trust rumah tangga yang LDM.
Terimakasih sudah membaca ulasan ku. Film Na Willa bisa di tonton di Netflix.




Posting Komentar